Rabu, 15 Mei 2019

Kujaga Dia Sebisaku

Mentari begitu cerah, aku selalu tak ada waktu untuk keluargaku terutama Bundaku. Waktuku bersamanya bisa dihitung jari. Liburan kali ini aku mengajak orang tua tunggalku tercinta untuk pergi ke suatu pantai. Aku hanya ingin menghabiskan masa indahku dengannya.

Kebahagiaan terindah seorang ibu adalah selalu bersama dengan anak tercintanya. Begitupun sebaliknya, aku bahagia bisa membuat senyuman di wajahnya yang perlahan mulai menua. Aku dan Bunda lebih senang berpergian dengan sepeda motor kesayangan kami. Hadiah terindah dari mantan bosku sebelum beliau menghadap sang illahi.

Perjalanan dari rumah ke pantai itu memakan waktu 4 jam. Aku yang membawa motor sampai ke tujuan tanpa henti. Walau lelah tetap saja aku bablas, demi segera sampai dan bisa menikmati ikan bakar disana. Sesampai di pantai aku memilih saung yang tidak jauh dari pinggir pantai. Tepat di depan saung kuparkirkan motor tercinta.

Bunda langsung masuk ke dalam saung dan memesan ikan bakar kesukaanku. Aku pun segera menyusulnya dan memilih meja yang menghadap ke arah laut. Karena aku suka menatap indahnya gelombang ombak yang berlarian diiringi nyanyiannya yang menghantam karang.

"Silahkan Neng, ikan bakarnya!" seru ibu yang punya warung.
"Terima kasih ya, Bu!" seru kami berdua sambil mencomot ikan bakarnya.
Sang empunya warung pun berlalu meninggalkan kami. Kami berdua kembali menikmati ikan bakar, dan sesekali aku memandang alur gelombang yang indah.

"Bun, ombaknya aneh deh," celetukku sambil menyuap ikan bakar.
"Kamu mah ada-ada aja, De!" seru Bunda sambil melihat ke arah laut.
Aku tahu beliau pun sedikit curiga tapi tetap menguatkan aku. Seberapapun beliau berusaha membuatku tenang tetap saja hatiku gelisah parah. Selesai makan  ikan bakar yang habis aku langsung bayar semua makanan yang kami pesan tadi dn mengajak Bunda beranjak dari tempat itu.

"Bun, kita pindah yuk ke saung yang di atas sana!" seruku sedikit mendesak.
"Ya udah, hayu atuh," jawabnya sambil merapikan barang bawaan.
Kami pun melangkah keluar dan segera pindah ke tempat yang sedikt lebih tinggi sekitar 4 meter dari titik awal.

"Lihat itu, untung kamu naik ke atas Nak!" seru seorang bapak sambil menunjuk ke arah saung yang tadi aku duduki.
Ternyata saung itu sudah rata dengan air. Aku langsung memeluk Bunda dengan hati makin gelisah menginginkan tempat yang lebih tinggi.

"Bunda, masih percaya sama Ade nggak?" tanyaku dalam pelukan.
"Masih atuh. Kenapa emangnya sayang?" sahut Bunda sambil mengelus punggungku untuk menenangkan.
"Mau ya, kita lari naik ke atas atap masjid?" ajakku sambil menunjuk ke masjid yang berjarak 10 meter dari kmi saat itu.
Bunda hanya melihat kearah masjid dan langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Aku bukan mengajak Bunda berjalan atau naik motor. Aku menarik tangan Bunda dan membawanya lari sekencang-kencangnya tanpa berbalik ke belakang. Kutinggalkan motor tercintaku walau ku tahu itulah nuawaku selama ini.

15 menit aku berlari saat tiba diatas masjid, Bunda menangis sesegukan setelah melihat ke belakangku. Ku hapus air matanya sambil menatap menara masjid yang cukup indah. Di atas atap masjid aku melihat Kakak sepupuku, dan warga sekitar rumahku.

Mereka heboh dan terlihat sibuk debgan diri masing-masing. Aku heran kenapa mereka begitu panik. Ada yang berlarian kesana kemari tanpa kejelasan. Ada yang berteriak menyebut nama Allah dan keluarga mereka. Aku kembali menatap Bundaku yang masih menangis.

"Bunda kenapa nangis?" tanyaku mulai penasaran.
"Motor kita selamat walau kita belum bisa mengambilnya," celetuknya sambil menunjuk kearah motorku.
Perlahan aku balikkan badan untuk mengikuti arah telunjuk Bunda. Seketika aku tersungkur sambil menyebut asma Allah. Tak kuasa menatap apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Sehingga aku sadar apa yang mereka lakukan.
"Bunda ambil motor kita dulu ya, De!" serunya sambil beranjak hendak meninggalkan aku.
"Nggak Bu, Ade nggak rela Bunda ninggalin Ade," ucapku dengan nada suara lirih.
"Tapi kasihan motor kita De, itu hadiah dari bos kamu," Sahut Bunda mencoba membujukku.
"Nggak Nda, Ade nggak mau Bunda ninggalin Ade," ucapku sambil menahan kakinya.
"Tapi dia kasihan sendirian yang disana. Semuanya sudah lenyap dengan Air," ucapnya menatap kearah motor.
"Bun, kita naik ke menara itu sekarang lewat atap rumah orang itu!" seruku sambil menarik tangan Bunda sekuat tenaga. Karena Bunda masih maksa mau turun. Sedangkan gelombang ombak makin tinggi.

Tanpa pikir panjang lagi kami berlari dengan air mata dan rasa takut serta gelisah. Akankah itu menjadi nafas dan kesempatan terakhir kami. Hatiku seakan tidak rela jika harus melihat orng tuaku satu-satunya menghembuskn nafas terakhirnya di hadapanku. Aku hanya berdoa jika ini adalah takdirku maka aku meminta satu permohonan pada Allah. Aku meminta diambil nyawanya sebelum Bundaku.

Nyawa kami semua diujung tanduk. Zikir dan doalah yang keluar dari mulut. Keegoisan mulai muncul, tak ada yang mau membantuku dan Bunda. Tapi aku tetap berusaha untuk Bundaku sampai ke menara masjid tertinggi di pinggir pantai terindah.

"Maafin Ade ya, Bun. Jika selama ini selalh menyusahkan dan menyakiti hati Bunda!" seruku sambil menangis dan memeluk Bunda.
"Bunda ikhlas dan ridho memaafkanmu sayang. Bunda juga minta maaf ya!" sahut Bunda sambil mencium keningku.

Aku membalikkan badan untuk melihat atap masjid yang tadi kmi singgahi. Walau rasa takut semakin mendalam, dalam membalikkan badan itu aku berdoa agar Allah mengijinkan aku membahagiakan Bunda terlebih dahulu sebelum memisahkan kami selamanya.

Allah maha Baik kepadaku, dengan menanamkan rasa takut yang luar biasa. Atap masjid kembali luluh lantah dengan air laut. Dan semua orang yang tadi masih disanapun hilang di telannya. Air mataku terus mengalir tanpa henti. Dalam pelukan Bunda kulihat sekitar, hanya ada 20 orang berada di sekelilingku.

Rasa takut mendalam di hatiku selalu menghantuiku. Dalam tangisku, ku terbangun dalam mimpi karena alarm hapeku berbunyi terus menerus. Aku duduk dalam memikirkan kejadian dalam mimpiku itu. Apa yang baru saja kumimpikan? Apa maksud dari mimpi ini? Aku hanya berdoa agar bisa terus menjaga orang tuaku satu-satunya.

Jumat, 21 September 2018

Hilang

Lelah seharian bekerja di luar mencari bahan buat produksi. Aku hendak membasuh badanku tapi apa daya si kecil keponakanku sudah ribet bulak balik ke kamar mandi. Aku pun mengurungkan niat membasuh badan.

Istirahat sesaat di depan rumah sambil berdiskusi dengan Bunda. Sesekali tertawa aku dibuatnya. Sampai di titik dimana pembicaraan itu menghasilkan semua emosi amarah murkaku.

"Dhe, tanah di depan akan dibangun!" seru Bunda perlahan-lahan.
"Apa Bun?" tanyaku memastikan.
"Iya. Tanah yg lagi kamu cicil mau dibangun. Katanya si kakak sudah dibayarkan sama si teteh!" ucap Bunda dengan nada pelan dan terbata-bata.
"Minta balikin uang Adhe sekarang juga!" seruku dengan nada penuh emosi.
"Saudara memang banyak ingkar janji. Makanya jangan salahkan Adhe kalau kepercayaan ini hilang!"lanjutku sambil terus bernada tinggi.
"Pelankan suaramu, tidak enak dengan tetangga!" pinta Bunda dengan sedikit membujuk.
"Biarkan orang lain tahu. Kalau kita lagi dizholimi saudara sendiri!" aku terus termakan emosi.

Sakit rasanya hati ini dikhianati oleh saudara sendiri. Walau bukan saudara kandung. Rasa kepercayaan sudah hilang seratus persen. Tak tersisa setetespun untuk kuberikan kepada mereka.

Ingin menangis? Jelas, ingin sekali aku menangis dan menjerit. Tapi seakan aku sedang dipeluk sehingga air mata tak jatuh setetes pun.

Kesunyian sesaat terasa. Diam seakan memberikan aku kelonggaran untuk berfikir jernih sesaat. Walau emosi masih meledak-ledak. Tapi aku tersadar akan ujian yang sedang Allah berikan ini.

"Nda, Allah uji Adhe lagi berada di titik ini kembali. Namun, ujian ini jauh lebih berat dari sebelumnya. Hal ini makin membuat Adhe yakin kalau Allah sayang banget sama Adhe!" ucapanku dengan nada berat.
"Maksud Adhe apa?" tanya Bunda.
"Banyak orang diciptakan dengan keluarga sempurna. Ada Ayah, Ibu, Kakak dan Adik dengan rasa cinta dalam keluarganya. Tapi Allah uji Adhe sejak dulu. Dari lahir Allah sudah ajarkan Adhe untuk mandiri, dan selama ini Adhe masih cuma ngeluh!" nada bicaraku kian berat seakan menangis tanpa air mata.
"Allah lahirkan Adhe seorang diri. Allah runtuhkan keluarga kecil kita sejak usia Adhe masih lima tahun. Allah patahkan hati Adhe dengan status Adhe yang tidak diakui oleh keluarga besar Ayah. Allah pisahkan Adhe dari belahan jiwa Adhe yaitu Mbah. Saat penyesalan datang dari Ayah, baru sesaat Adhe  merasa bahagia kembali DIA jatuhkan Adhe ke lubang paling dalam dengan kepergian Ayah selamanya!" seru menahan tangis.
"Terus saja roda ujian kehidupan Adhe terulang begitu. Sekarang Adhe dihancurkan lagi dengan kepercayaan yang Adhe punya untuk keluarga Bunda. Adhe pernah bilang sama Bunda, semoga keluarga Bunda tidak ada satu pun yang menyakiti hati Adhe. Sehingga Adhe luka dan maaf tiada pernah ia dapatkan sampai maut menjemput mereka, seperti yang sudah terjadi. Tapi mereka melakukan hal yang sama menyakiti hati Adhe!" lanjutku dengan nada penuh kecewa.
"Saat ini Adhe hanya ingin kita berdua pergi jauh dari semua yang berurusan dengan keluarga Bunda dan Ayah. Biarkan mereka anggap Adhe mati saja daripada luka yang terus mereka berikan dihati ini. Bun, jika suatu saat nanti kita pergi dari mereka Adhe mohon banget jangan komunikasi lagi dengan mereka yang sudah menyakiti hati Adhe. Walau tanpa segaja mereka menyakitinya, Adhe tahu bahwa mereka mai menyakiti Bunda tapi mereka melakukan itu sama saja menyakiti Adhe. Mungkin Allah saksi sakit hati yang mereka ciptakan kepada Adhe. Dan Adhe hanya berharap mereka lekas sadar, sesegera mungkin akui kesalahan itu atau maaf tidak Adhe berikan sampai nafas mereka terhenti!" lanjutku penuh ketegasan dan amarah.
"Jangan berkata begitu Nak, ingat seseorang telah kamu perlakukan begitu sampai akhir hayatnya. Tiada maaf setitik pun yang kmu berikan. Bunda tidak tahu bagaimana nasib orang itu di alam kuburnya. Jangan mendendam lagi ya. Kita kerja keras kemudian menjauh dari semuanya. Dari mereka yang sudah menzholimi kamu. Bunda yakin kamu berfikir dahulu sebelum bertindak. Ingat pesan Mbah dan Ayah, sabar!" Bunda berusaha menenangkan aku.
"Ya, amanah itu yang jadi rem kemarahanku. Ayah dan Mbah memang sangat tahu karakter aku seperti apa. Sampai
mereka berdua mengamanahi Adhe dengan satu kata itu!" aku menjawab tanpa sadar apa yang aku ucapan tadi.

Saat ini yang ada di pikiranku hanya bagaimana caranya aku dan Bunda pergi menjauh sejauh-jauhnya dari mereka semua. Karena hatiku sudah lelah dibuatnya. Hanya beberapa menit ngobrol berdua dengan Bunda sampai akhirnya kami masuk ke dalam rumah.

Sayangnya, jiwaku seakan pergi dari ragaku dn berkelana membutuhkan dekapan hangatnya. Sepanjang hari hanya merenungkan semua yang terjadi. Aku sudah berlari kini menjauhi mereka dan aku masih setengah merangkak menghampiri sang Illahi untuk didekapnya.

Selasa, 03 April 2018

Review Trailer Lima Penjuru Masjid



Ini kisah tentang lima anak muda yang hatinya belum terpaut pada masjid. Dan mereka dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka adalah Budi (Aditya Surya Pratama), Abian (Zikri Daulay), Lukman (Ahmad Syarif), Gani (Faizal Azhar Harahap), dan Usman (Zaky Ahmad Rivai).

Selasa, 06 Februari 2018