Lelah seharian bekerja di luar mencari bahan buat produksi. Aku hendak membasuh badanku tapi apa daya si kecil keponakanku sudah ribet bulak balik ke kamar mandi. Aku pun mengurungkan niat membasuh badan.
Istirahat sesaat di depan rumah sambil berdiskusi dengan Bunda. Sesekali tertawa aku dibuatnya. Sampai di titik dimana pembicaraan itu menghasilkan semua emosi amarah murkaku.
"Dhe, tanah di depan akan dibangun!" seru Bunda perlahan-lahan.
"Apa Bun?" tanyaku memastikan.
"Iya. Tanah yg lagi kamu cicil mau dibangun. Katanya si kakak sudah dibayarkan sama si teteh!" ucap Bunda dengan nada pelan dan terbata-bata.
"Minta balikin uang Adhe sekarang juga!" seruku dengan nada penuh emosi.
"Saudara memang banyak ingkar janji. Makanya jangan salahkan Adhe kalau kepercayaan ini hilang!"lanjutku sambil terus bernada tinggi.
"Pelankan suaramu, tidak enak dengan tetangga!" pinta Bunda dengan sedikit membujuk.
"Biarkan orang lain tahu. Kalau kita lagi dizholimi saudara sendiri!" aku terus termakan emosi.
Sakit rasanya hati ini dikhianati oleh saudara sendiri. Walau bukan saudara kandung. Rasa kepercayaan sudah hilang seratus persen. Tak tersisa setetespun untuk kuberikan kepada mereka.
Ingin menangis? Jelas, ingin sekali aku menangis dan menjerit. Tapi seakan aku sedang dipeluk sehingga air mata tak jatuh setetes pun.
Kesunyian sesaat terasa. Diam seakan memberikan aku kelonggaran untuk berfikir jernih sesaat. Walau emosi masih meledak-ledak. Tapi aku tersadar akan ujian yang sedang Allah berikan ini.
"Nda, Allah uji Adhe lagi berada di titik ini kembali. Namun, ujian ini jauh lebih berat dari sebelumnya. Hal ini makin membuat Adhe yakin kalau Allah sayang banget sama Adhe!" ucapanku dengan nada berat.
"Maksud Adhe apa?" tanya Bunda.
"Banyak orang diciptakan dengan keluarga sempurna. Ada Ayah, Ibu, Kakak dan Adik dengan rasa cinta dalam keluarganya. Tapi Allah uji Adhe sejak dulu. Dari lahir Allah sudah ajarkan Adhe untuk mandiri, dan selama ini Adhe masih cuma ngeluh!" nada bicaraku kian berat seakan menangis tanpa air mata.
"Allah lahirkan Adhe seorang diri. Allah runtuhkan keluarga kecil kita sejak usia Adhe masih lima tahun. Allah patahkan hati Adhe dengan status Adhe yang tidak diakui oleh keluarga besar Ayah. Allah pisahkan Adhe dari belahan jiwa Adhe yaitu Mbah. Saat penyesalan datang dari Ayah, baru sesaat Adhe merasa bahagia kembali DIA jatuhkan Adhe ke lubang paling dalam dengan kepergian Ayah selamanya!" seru menahan tangis.
"Terus saja roda ujian kehidupan Adhe terulang begitu. Sekarang Adhe dihancurkan lagi dengan kepercayaan yang Adhe punya untuk keluarga Bunda. Adhe pernah bilang sama Bunda, semoga keluarga Bunda tidak ada satu pun yang menyakiti hati Adhe. Sehingga Adhe luka dan maaf tiada pernah ia dapatkan sampai maut menjemput mereka, seperti yang sudah terjadi. Tapi mereka melakukan hal yang sama menyakiti hati Adhe!" lanjutku dengan nada penuh kecewa.
"Saat ini Adhe hanya ingin kita berdua pergi jauh dari semua yang berurusan dengan keluarga Bunda dan Ayah. Biarkan mereka anggap Adhe mati saja daripada luka yang terus mereka berikan dihati ini. Bun, jika suatu saat nanti kita pergi dari mereka Adhe mohon banget jangan komunikasi lagi dengan mereka yang sudah menyakiti hati Adhe. Walau tanpa segaja mereka menyakitinya, Adhe tahu bahwa mereka mai menyakiti Bunda tapi mereka melakukan itu sama saja menyakiti Adhe. Mungkin Allah saksi sakit hati yang mereka ciptakan kepada Adhe. Dan Adhe hanya berharap mereka lekas sadar, sesegera mungkin akui kesalahan itu atau maaf tidak Adhe berikan sampai nafas mereka terhenti!" lanjutku penuh ketegasan dan amarah.
"Jangan berkata begitu Nak, ingat seseorang telah kamu perlakukan begitu sampai akhir hayatnya. Tiada maaf setitik pun yang kmu berikan. Bunda tidak tahu bagaimana nasib orang itu di alam kuburnya. Jangan mendendam lagi ya. Kita kerja keras kemudian menjauh dari semuanya. Dari mereka yang sudah menzholimi kamu. Bunda yakin kamu berfikir dahulu sebelum bertindak. Ingat pesan Mbah dan Ayah, sabar!" Bunda berusaha menenangkan aku.
"Ya, amanah itu yang jadi rem kemarahanku. Ayah dan Mbah memang sangat tahu karakter aku seperti apa. Sampai
mereka berdua mengamanahi Adhe dengan satu kata itu!" aku menjawab tanpa sadar apa yang aku ucapan tadi.
Saat ini yang ada di pikiranku hanya bagaimana caranya aku dan Bunda pergi menjauh sejauh-jauhnya dari mereka semua. Karena hatiku sudah lelah dibuatnya. Hanya beberapa menit ngobrol berdua dengan Bunda sampai akhirnya kami masuk ke dalam rumah.
Sayangnya, jiwaku seakan pergi dari ragaku dn berkelana membutuhkan dekapan hangatnya. Sepanjang hari hanya merenungkan semua yang terjadi. Aku sudah berlari kini menjauhi mereka dan aku masih setengah merangkak menghampiri sang Illahi untuk didekapnya.