01 April 2016
Pukul 16.45 WIB
Masih sangat terngiang di memori bagaimana kejadian itu terjadi. Niat hendak ngerjain di saat april mop, malah berbalik shock ke diri sendiri. Ku pencet nomor ponsel yang sangat spesial melalui telepon kantor.
"Ya Mbak, ada apa?" Ujar si penerima telepon to the point.
"Aku minta berkasnya yang kemarin aku serahin. Sudah kelarkah?" Ucapku basa basi.
"Belum kelar Mbak." Sahutnya.
"Aku mau ngomong sesuatu Mas." Ucapku yang kemudian gagang telepon direbut oleh Ayu temanku.
"Mas, bisa engga kalau kita lebih dari teman?" Tanya temanku.
"Maksudnya?" Tanyanya kembali.
"Iya, mau engga lebih dari seorang teman" ujar Ayu lembali yang kemudian telepon'a dikasihkan kepadaku.
"Jalanin aja ya?" Ucapnya.
Itu adalah Kalimat yang menggantung bagi seorang wanita. Malu sebenernya dengan sikap kali ini, walau bukan aku yang mengatakannya. Langsung aku berteriak "April mop". Tiba-tiba telepon direbut oleh Ayu. Mereka berdua pun berbincang serius, entah apa yang mereka bicarakan.
Sebulan berlalu. Sikap dia kini berubah dari awal berkenalan. Kaku. Entah kenapa dia selalu marah ketika aku jalan, foto atau update status tentang lelaki lain. Aku makin bingung dibuatnya. Aku minta waktu sebentar saja buat bicara berdua. Seorang wanita yang butuh kepastian akan sebuah jawaban. Namun, 1000 alasan dia berikan. Sedih, kecewa dan bingung jadi satu. Ayu kesal sampai dia mengirim pesan lewat aplikasi whatsapp.
Assalamuallaikum
Mas, maaf y sebelumnya.... aku engga bermaksud lancang untuk masalah ini, tapi boleh engga aku minta tolong sama mas, untuk 1 kali ini aja, berikan waktu 30 menit sampai 1 jam saja untuk ketemu sama Adhe, engga ada maksud apapun kok dalam pertemuan ini hanya ingin berbincang agak Serius :) aku harap mas, bisa berikan waktu itu..... sebelum dan sesudahnya aku minta maaf sedalam-dalamnya atas kelancangan aku ini.
By : ayu
Itu secuplik pesan yang dikirim Ayu. Tanpa balasan sekata pun untuk pesan yang dikirimkan. Harapan kini pupus sudah. Beberapa hari lagi aku pergi liburan ke luar negeri. Sejujurnya aku mau selesaikan urusan ini sama dia. Sayang niat baik tak terlaksana dengan baik pula.
15 Mei 2016
Aku pergi ke Bandara Soeta pukul 07.30 dari damri kayuringin Bekasi. Dia pun tak ada kabar kapan aku bisa bicara berdua dengannya. Akhirnya aku putuskan menulis sesuatu di path salah satu sosmed yang disana aku berteman dengannya.
Terimakasih buat kamu yang belum mau berbicara berdua denganku, menyelesaikan sebuah hal yang menurut aku harus terselesaikan. Aku hanya butuh waktu kamu sekejap saja, 5-30 menit saja kok. Baik jika ini keputusanmu, say goodbye for you. Aku akan delete namamu dari hatiku.
Bukan hal mudah buatku melupakan orang yang paling aku cintai dan aku sayangi. Lelaki yang pertama melihatnya hati ini langsung klik. Tanpa tahu siapa dia, tanpa tahu latar belakangnya. Hati ini yakin dia terbaik buatku.
Selama perjalanan dari damri ke Soeta dan Soeta ke KLIA2 bayangannya tak kunjung lepas dalam pikiran, hati dan mataku. Namun, ada janji yang harus aku tepati. Janji dimana aku harus bisa melupakan dia setelah aku liburan. Aku harus have fun selama liburan. Hanya usaha yang mampu diberikan. Cinta berkata lain, niat dan tekat masih mampu dikalahkan olehnya.
3 hari di Kuala Lumpur, aku hanya mampu berbagi kebahagiaan yang sedikit dipaksakan. Aku berusaha memberi kabar kepadanya, kalau aku baik-baik saja di negeri orang. Aku laksana elang yang terbang dengan separuh sayap. Bak raga tanpa jiwa. Seperti mata tanpa cahaya. Suaranya adalah semangatku, wajahnya adalah ketenangan buatku.
Banyak pria-pria ganteng di kuala lumpur yang notabene orang india. India, favoritku. Sayang hati tak terketuk sedikit pun. Tanpa senyum kepada mereka, seperti memberi isyarat bahwa hatiku telah tertutup rapat. Ingin rasanya aku membuka buat yang lain tapi hati tak mengizinkan.
18 Mei 2016
Sebenarnya aku telah sampai di Bekasi. Tak mampu aku mengabarinya bahwa aku elah di dekatnya kini. Aku terhalang oleh janji. Move on ketika kembali ke tanah air itulah yang tak bisa ku langgar. Aku sangat rindu padanya, tapi apa daya keangkuhan merajaiku. Kesombongan yang aku hadirkan. Hanya untuk menguatkan aku melupakannya.
Ingin kudengar suaranya. Ada sebuah souvenir yang sudah ku beli spesial untuknya. Tapi sayang aku harus limpahkan ke orang lain. Aku tidak mau membedakan dari teman-teman yang lain.
21 Mei 2016
Aku kembali ke aktifitasku seperti sediakala. Berhadapan dengan komputer. Ini pertama kalinya aku menelepon ke kantornya dan bicara padanya. Seminggu jauh darinya bagaikan seabad tak jumpa.
"Mas, ini berkas yang kamu kasih kapan mau transaksi ya?" Tanyaku.
"Perpanjangan Mbak. Minggu ini kalau bisa." Jawabnya cukup jelas.
"Okey." Jawabku singkat sambil tertawa riang.
Andai kamu tahu Mas, aku bahagia mendengar suara indahmu lagi. Aliran darahku kembali normal. Tapi sedih ketika kamu tak menanyai kabarku. Ketika kamu tak membicarakan mengenai liburanku. Saat telepon ditutup aku melihat wajah temanku, disaat itulah aku tersadar ada janji yang wajib ku tepati.
Aku ingin melihat senyum indahmu Mas. Ingin sekali. Sampai aku mendengar kabar bahwa aku patah hati gara-gara kamu menolak cintaku. Jujur aku engga merasakan patah hati sama sekali Mas. Karena memang aku tahu kau tidak menolak dan juga tidak menerimaku. Aku bangga pernah mencintaimu Mas. Aku pernah mengenal sosok laki-laki yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya.
16 Juni 2016
Asyiknya mengetik di depan komputer sambil bercerita memang nikmat. Sampai suatu titik dimana Ayu mengejutkanku dengan sebuah kalimat "bullsit semua orang itu". Aku tak terima dengan statement yg dia lontarkan "gue engga ya."
"Loe juga sama aja." Suaranya meninggi.
"Beda dong." Sahutku tak terima.
"Sekarang gue tanya ke loe, jawab jujur ya. Apa loe udah bisa lupain Mas itu?" Tanyanya sangat serius.
"Masih mencoba move on" Sahutku sedikit meragu.
"Itu apa namanya kalau bukan bullsit. Bilang pulang dari KL langsung move on. Nyatanya mana?" Dia mencoba mengingatkan janjiku.
Aku terdiam tanpa bergerak sesaat. Memikirkan setiap ucapan yang terlontar dari mulut temanku. Ingin rasa aku bilang padanya, kalau aku telah menulis sebuah surat yang tak pernah aku sampaikan. Seperti ini isinya.
Dear Lelaki yang dikagumi oleh Hatiku.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Mas, aku selalu berharap kamu baik-baik saja, sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWt. Mas, aku kecewa saat kamu tak mau bicara berdua denganku. Saat kamu tak ingin menonton berdua denganku. Aku hanya ingin mengenalmu sedikit lebih jauh. Aku tahu ada salah yang mungkin tak bisa kamu utarakan padaku. Salah yang mungkin tak sengaja aku lakukan. Sebuah kesalahan yang membuatmu meragukan aku. Mas, walau banyak yang bertanya kenapa hatiku memilihmu untuk dicintai. Walau banyak yang mengatakan kenapa aku mau denganmu. Aku hanya mampu menjawab dengan kalimat Saya engga tahu, alasan apa yang tepat untuk menjawabnya.
Mas jika kamu memiliki rasa yang sama denganku. Sekali saja kasih aku kepastian. Mau dijalani seperti apa hubungan kita. Namun satu hal yang pasti jika kamu mau jadi sahabatku, kesempatan untuk memilikiku tak kan ku berikan. Prinsip itu masih aku pegang sampai saat ini. Aku janji jika kamu memiliki rasa yang sama, aku tak akan mengubahmu jadi apa yang aku mau. Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Karena aku mengenalmu dari yang bukan siapa-siapa, tanpa tahu riwayat sosial dan hidupmu.
Jika kamu takut engga enak dalam pekerjaan bila kita bersatu. Aku siap menjaga rahasia kita bersatu. Tapi aku minta pengecualian, aku tak mampu menutupi dari satu orang yakni sahabat, kaka dan sepupuku yang bernama Anis. Mas, aku juga masih ada impian yang kukejar, jadi tak perlu risau aku meminta bersamamu seumur hidup secara terburu-buru. Masih ada amanah yang belum aku lakukan. Harus selesaikan itu dulu Mas.
Oia yang paling kamu ketahui. Aku bukan playgirl, teman lelakiku lebih banyak dari teman wanitaku. Aku baru memiliki teman wanita yang cukup banyak ketika aku bergabung di forum lingkar pena. Aku juga masih berhubungan baik dengan mantan-mantanku. Bukan karena masih mengharapkan atau mencintainya. Aku tidak mau memutuskan silahturahmi hanya itu. Aku juga punya prinsip engga ada kesempatan kedua buat mereka. Maaf jika aku berkata-kata terlalu panjang lebar. Aku tunggu jawabanmu Mas.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
By : wanita yang mencintaimu tanpa tahu alasannya.
Sebuah surat yang hanya tersimpan di draft emailku. Surat yang tak pernah bisa ku kirim. Harapan yang mampu menjadi jawabannya. Jangan cemburu, marah dan kesal lagi ya, pesan yang tak mampu tersampaikan. Sebuah rasa yang tak tahu harus bermuara kemana.
Mata tanpa cahaya
Paru tanpa udara
Vena tanpa darah
Jantung tanpa detak
Raga hilang jiwa
Mayat yang masih bergerak bebas
Ya itu aku
Aku tanpamu
Senyum..
Suara..
Binar matamu..
Tengkar kita..
Itulah hiasan hidupku
Pelangi kehidupanku
Cahaya mataku
Udara paruku
Darah venaku
Detak jantungku
Gulita tanpa secercah
Kalam dalam doaku
Penenang dalam kalbuku
Kamu...
Pelangi hidupku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar