Selasa, 28 Juni 2016

Nasi jadi bubur

26 Juni 2016
Egoku hari ini aku lunturkan. Demi sebuah kebersamaan dan nama baik organisasi. Walau nama baikku telah jelek tercemar dengan luar biasanya. Aku masa bodo dengan perkataan orang lain tentangku, terlebih hal negatif yang tak pernah aku lakukan. Biarkan orang lain berkata sesuka hati, bak pribahasa anjing menggonggong khafilah berlalu.


Berkali-kali aku dibilang kepala atau otak dari teman-teman wanita yang lain. Hal itu hanya aku tertawai, karena apapun yang aku ucapankan dan lakukan itunberdasarkan musyawarah bersama. Hari ini ada 2 organisasi lain yang membantu kami. Jika bukan demi nama baik kelompok, aku malas membantu.

Sejujurnya, banyak minus dalam kegiatan ini. Sedih, ya sedih sekali sebenernya. Bukan bantuan yang kami dapat dari organisasi lain. Malah membuat kami lebih ribet. Karena ada tamu itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seseorang memperhatikan aku dan sahabatku dari awal kehadiran kami. Sosok lelaki dari organisasi lain.

Tampang dia sih lumayan ya daripada lelaki yang ada disana saat itu. Baru kelihatan okeynya ketika sudah 3 kali meliriknya. Beda saat aku berjumpa seseorang yang namanya terukir dihatiku. Senyumnya mampu membuka pintu hati yang telah lama terkunci. Ups, jadi ke orang itu sih. Balik lagi ke hari ini.

Sebuah senyum dari ketua kami memberi arti terima kasih. Tapi tak kami hiraukan, kenapa cukup dalam kecewa yang kami terima. Tapi tak perduli dengan siapapun saat itu. Kami berharap acara itu berjalan lancar, sayang harapan tinggallah harapan. Aku tahu kekacauan itu terjadi saat kebersamaan rusak. Saat kesepakatan mulai menghilang.

Omongan negatif silih berganti. Panas rasanya kuping ini, namun apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Hanya mampu menerima pelajaran yang terjadi. Seandainya saja organisasiku mau menurunkan ego masing-masing dan menyadari kesalahan yang terjadi. Apalagi jika penyelesaian terjadi sebelum acara, mungkin hal buruk tak kan ada.

Tetapi apa yang sudah terjadi biarlah terjadi kami menjadi tahu. Kami menjadi kenal karakter orang lain diluar organisasi kami. Menjadi pelajaran berharga kejadian kemarin. Kami harus terus memperbaiki luka dari dalam bukan luarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar